Artikel Dhamma

Noble Eightfold Path

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Setelah dalam pertemuan sebelumnya telah dibahas mengenai kebenaran mulia tentang dukkha, kebenaran mulia tentang sebab dukkha, dan kebenaran mulia tentang padamnya dukkha dibutuhkan kebenaran mulia yang keempat ini yaitu kebenaran mulia tentang jalan menuju padamnya dukkha.

Di dalam Kūṭāgāra Sutta, Sang Buddha menyebutkan: “Bhikkhu, jika ada orang yang mengatakan, bahwa tanpa berhasil menembus Kebenaran Mulia tentang Penderitaaan sebagaimana adanya, tanpa berhasil menembus Kebenaran Mulia tentang Sebab Penderitaan sebgaimana adanya, tanpa berhasil menembus Kebenaran Mulia tentang Padamnya Penderitaan sebagaimana adanya, tanpa berhasil menembus Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Padamnya Penderitaan sebagaimana adanya, saya akan sepenuhnya mengakhiri penderitaan. Hal itu tidaklah memungkinkan.” Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk memahami empat kebenaran mulia apabila ingin mengakhiri penderitaan.
Untuk mengetahui dan melihat Kebenaran Mulia yang pertama, kedua dan ketiga, diperlukan berlatih Kebenaran Mulia yang keempat, yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jalan Mulia Berunsur Delapan terdiri dari tiga kelompok latihan yaitu sīla, samādhi, dan pañña. Dengan melatih sīla, kita sedang mengembangkan kemurnian perbuatan tubuh dan ucapan. Dengan melatih samādhi, kita memperoleh kemurnian pikiran. Dan dengan melatih pañña, dapat membebaskan dari penderitaan.
Yang termasuk dalam kelompok sīla adalah Penghidupan Benar, Perbuatan Benar, dan Ucapan Benar. Yang dimaksud dengan Penghidupan Benar adalah menghindari perdangangan senjata, perdagangan manusia, perdagangan daging, perdagangan minuman keras, dan perdagangan racun. Yang termasuk dalam kelompok Ucapan Benar adalah menghindari ucapan bohong, menghindari ucapan fitnah atau mengadu domba, menghindari ucapan kasar, dan menghindari ucapan omong kosong. Yang termasuk dalam kelompok Perbuatan Benar adalah menghindari pembunuhan makhluk hidup, menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan, dan menghindari perbuatan asusila. Pelatihan sīla merupakan tahap paling awal dalam perjalanan menuju pembebasan. Pada 7 Pemurnian, sīla merupakan hal pertama yang mesti dimurnikan. Pelatihan sīla dapat membantu pengembangan samādhi dengan menyingkirkan kondisi batin yang tidak bajik yang dapat mengganggu kedamaian batin.
Kelompok yang kedua adalah kelompok samādhi / konsentrasi. Yang termasuk dalam kelompok samādhi adalah Konsentrasi Benar, Perhatian Benar, dan Usaha Benar. Apakah itu Usaha Benar? Ada 4 jenis Usaha Benar yaitu:
1. Usaha untuk mencegah kondisi batin yang tidak bajik untuk muncul
2. Usaha untuk menyingkirkan kondisi batin yang tidak bajik yang telah muncul
3. Usaha untuk menumbuhkan kondisi batin yang bajik yang belum muncul
4. Usaha untuk mengembangkan kondisi batin yang bajik yang telah muncul
Ada 4 jenis Sati/Perhatian Benar yaitu:
1. Sati pada tubuh: Mengamati keluar masuknya napas, empat unsur, 32 bagian tubuh
2. Sati pada perasaan: Mengamati perasaan menyenangkan, tidak menyenangkan, dan netral
3. Sati pada kondisi batin: Mengamati setiap kondisi batin yang muncul baik kondisi batin yang bajik, tidak bajik, ataupun netral
4. Sati pada dhamma: Mengamati semua fenomena batin dan materi seperti panca khanda, panca nivarana, 7 Faktor Pemurnian, Empat Kebenaran Mulia, dan lainnya
Yang dimaksud dengan konsentrasi benar adalah konsentrasi akses dan delapan pencapaian (jhāna, yaitu konsentrasi penyerapan). Dalam Mahavagga Saṃyutta Nikāya, Sang Buddha mengatakan: “Bhikkhu, kembangkan konsentrasi. Seorang bhikkhu yang terkonsentrasi tahu dan melihat hal-hal sebagaimana adanya. Apa yang ia ketahui dan lihat sebagaimana adanya? Ia tahu dan melihat sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’. Ia tahu dan melihat sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal mula penderitaan’. Ia tahu dan melihat sebagaimana adanya: ‘Ini adalah padamnya penderitaan’. Ia tahu dan melihat sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju padamnya penderitaan’.” Oleh karena itu, pada diagram 7 pemurnian, latihan pengembangan konsentrasi bertujuan untuk mencapai pemurnian pandangan / (Diṭṭhi VIsuddhi).
Dalam rangka melatih konsentrasi, kita harus berlatih meditasi samatha. Ada 40 jenis objek meditasi yang diajarkan oleh Buddha untuk mencapati konsentrasi penyerapan maupun konsentrasi akses. Biasanya, untuk para pemula akan diajarkan ‘penyadaran pada napas’ (Ānāpānasati). Mengapa nafas? Karena nafas merupakan objek yang mudah untuk kita dapatkan. Dari lahir hingga tua, kita selalu bernafas. Tidak seperti objek meditasi samatha lainnya sepert meditasi kasina api. Anda memerlukan api sebagai objek meditasi untuk meditasi kasina api. Ketika konsentrasi berkembang, maka meditator akan mampu untuk mencapai konsentrasi penyerapan penuh yang sangat mendalam dan kuat.
Buddha sendiri, sebelum mencapai pencerahan penuh di bawah pohon Bodhi pada hari bulan purnama, selama jaga malam yang pertama berlatih meditasi Ānāpānasati sampai pada konsentrasi jhāna keempat. Ketika mencapai keadaan tersebut, Beliau mengarahkan pikiran-Nya pada Pengetahuan Perenungan tentang Kehidupan Lampau (Pubbenivāsānusati ñāna). Beliau merenungkan kehidupan-Nya yang tak terhitung di masa lampau, melihat dengan jelas satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, Sang Buddha mengingat kembali secara rinci masa lalu-Nya, yaitu di sana Beliau bernama ini, anggota suku ini, dengan penampilan seperti ini, seperti itu makanan-Nya, seperti itu pengalaman-Nya tentang kesenangan dan kesakitan, seperti itu akhir dari rentang hidup-Nya, mati di sana, beliau melihat lahir kembali di tempat lain. Jadi, Sang Buddha mengingat kembali kehidupan lampau-Nya yang tidak terhitung dalam segala aspek. Beliau melihat waktu yang tidak terhitung ketika terlahir dan mati. Selama jam jaga malam pertama pada malam pencerahan penuh-Nya, Beliau menembus batin dan materi. Pada saat itu, Beliau mencapai Pengetahuan Menganalisa Batin dan Materi (Nāma-rūpa pariccheda ñāna).
Dalam jaga malam kedua malam tersebut, Beliau mengarahkan pikiran-Nya pada Pengetahuan tentang Mati dan Muncul-kembalinya Makhluk (Dibbacakkhu ñāna). Dengan mata dewa-Nya, beliau melihat makhluk yang tidak terhitung jumlahnya mati dan muncul kembali, makhluk inferior dan superior, rupawan dan jelek, bahagia atau tidak bahagia dalm nasib mereka. Beliau mengerti bahwa makhluk menuai hasil sesuai dengan perbuatan mereka. Makhluk tidak-terpuji yang berperilaku buruk melalui tubuh, ucapan, dan pikiran; mencerca orang suci, mempunyai pandangan salah, memperoleh buah kamma karena pandangan salah, menderita, pada saat hancurnya tubuh setelah mati dan muncul dalam keadaan tersesat, dalam nasib yang tidak menyenangkan, dalam kebinasaan, di neraka. Tapi makhluk terpuji yang berkelakuan baik dengan tubuh, ucapan, dan pikiran; tidak mencerca orang suci, berpandangan benar, mendapatkan buah kamma karena pandangan benar, tidak menderita pada saat hancurnya tubuh setelah mati. Makhluk-makhluk ini muncul dengan nasib yang membahagiakan, di alam surge. Dengan Mata Dewa-Nya, Beliau melihat makhluk-makhluk meninggal dan muncul kembali, makhluk inferior dan superior, rupawan dan jelek, bahagia atau sengsara dalam nasib mereka. Beliau mengerti bahwa makhluk menuai hasil sesuai dengan perbuatan mereka. Beliau melihat dengan Mata Dewa-Nya pengetahuan bagaimana makhluk lahir dan mati (Cutupāpata ñāna). Ketika Sang Buddha memfokuskan pikiran-Nya pada bagaimana sebenarnya makhluk terlahir dalam keadaan berbahagian ataupun menyedihkan, Beliau mencapai Pengetahuan Memahami Sebab dan Akibat (Paccaya-pariggaha ñāna).
Selama jam jaga ketiga malam tersebut, Bodhisatta mempertimbangkan hubungan sebab-akibat antara dua belas faktor sebab akibat yang saling bergantungan. Bodhisatta kembali mengembangkan Ānāpānasati sampai jhāna keempat. Beliau kemudian merenungkan ketidakkekalan (anicca), ketidakpuasan (dukkha), dan tanpa-diri (anattā), sifat dasar dari fenomena batin dan materi, dengan penyebab dan akibatnya. Kemudian Empat Jalan Kebijaksanaan dan Empat Buah Kebijaksanaan (Magga-phala ñāna) muncul di dalam diri-Nya dengan cepat, satu demi satu. Jalan kebijaksanaan memberantas kekotoran batin-Nya langkah demi langkah tanpa tersisia. Bodhisatta kemudian menjadi seorang Buddha, seorang Arahat. Kemudian Pengetahuan Peninjauan (pacavekkhana ñāna) muncul dalam diri-Nya. Sekarang kita mengetahui bahkan Bodhisatta mengembangkan keseluruhan dari enam belas pengetahuan kebijaksanaan yang merupakan prasyarat penting untuk merealisasi Nibbāna.
Setelah melatih meditasi vipassana, maka kelompok kebijaksanaan juga akan tumbuh dengan sendirinya untuk mencabut akar-akar kekotoran batin. Kelompok pañña / kebijaksanaan terdiri dari 2 bagian yaitu pengertian benar dan pikiran benar. Ada 4 jenis pengertian benar yaitu:
1. Pengertian akan ketidakpuasan
2. Pengertian akan asal mula ketidakpuasan
3. Pengertian akan terhentinya ketidakpuasan
4. Pengertian akan jalan menuju terhentinya ketidakpuasan
Ada 2 jenis pikiran benar yaitu:
1. Nekkhamma-Saṅkappa, pikiran yang berhubungan dengan pelepasan
2. Abyāpāda- Saṅkappa, pikiran yang berhubungan dengan lenyapnya keinginan jahat
3. Avihiṁsā- Saṅkappa, pikiran yang berhubungan dengan lenyapnya kekejaman
Kelompok kebijaksanaan tersebut tumbuh karena meditator telah melihat fenomena nāma dan rūpa, beserta fenomena Nibbāna sebagaimana adanya. Setelah melihat dengan jelas fenomena nāma dan rūpa, beserta fenomena Nibbāna seseorang dengan sendirinya tidak akan mau melekat lagi terhadap nāma dan rūpa karena nāma dan rūpa tidak dapat diandalkan. Itulah pelepasan yang terjadi karena pelatihan kebijaksanaan.
Demikianlah proses pencapaian pembebasan sejati yang telah diuraikan oleh Buddha. Setelah mengetahui bagaimana cara berlatih dan bagaimana Buddha dapat memperoleh pencapaiannya, marilah kita bersama-sama berlatih sesuai dengan jalan yang telah diajarkan oleh Buddha untuk mencapai pembebasan sejati.
Semoga dhammadesana ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Idaṁ me puññam, nibbānasa paccayo hotu

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *