Artikel Dhamma

Panca Khanda

Dhammacakkappavattana Sutta
Dhammacakkappavattana Sutta merupakan sutta yang berisi khotbah pertama Sang Buddha yang dibabarkan kepada lima orang pertapa (Kondañña, Vappa, Bhaddiya, Mahanama, dan Assaji) di Taman Rusa Isipatana pada bulan Asadha. Di dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan Empat Kebenaran Mulia (Catur Ariya Saccani/Cattari Ariya Saccani) secara terperinci.

Empat Kebenaran Mulia (Catur Ariya Saccani/Cattari Ariya Saccani)
Segala sesuatu yang terkondisi merupakan suatu penderitaan (dukkha). Kelahiran adalah penderitaan; usia tua adalah penderitaan; sakit adalah penderitaan; merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki adalah penderitaan; mengalami sesuatu yang berada di luar ekspektasi adalah penderitaan; berpisah dengan orang yang dikasihi adalah penderitaan; bertemu dengan orang yang tak disukai juga adalah suatu penderitaan.
Setiap orang ingin terbebas dari penderitaan. Untuk terbebas dari penderitaan, seseorang terlebih dahulu harus mampu untuk mengetahui dan memahami penderitaan itu sendiri. Seseorang tidak akan mampu terbebas dari penderitaan apabila orang tersebut belum mengetahui dan memahami penderitaan sebagaimana adanya. Hal ini dapat diumpamakan seperti orang yang sedang sakit. Seseorang harus mengetahui dulu apa penyakit yang sedang dialami. Setelah mengetahui, seseorang harus memahami penyakit tersebut agar mengetahui apa penyebab kemunculan penyakit tersebut. Dengan mengetahui penyebab kemunculan penyakit, seseorang akan memahami cara untuk menyembuhkan penyakit tersebut, misalkan dengan mengonsumsi obat tertentu. Setelah seseorang memahami hal-hal tersebut, orang itu tentu akan mengonsumsi obat yang sesuai hingga penyakitnya sembuh. Demikian pula Empat Kebenaran Mulia perlu dipahami dan diusahakan agar perlahan dapat mengurangi penderitaan yang dialami. Sebagai salah satu contoh, sebelum terlahir menjadi Pangeran Sidhatta, Bodhisatta menjalani hidup yang cukup lama di alam binatang. Bodhisatta pernah terlahir sebagai seekor kera yang menyelamatkan seorang pemburu untuk keluar dari hutan, padahal awalnya pemburu tersebut bermaksud membunuhnya. Pernah juga Bodhisatta terlahir sebagai seekor kerbau yang tetap sabar walau selalu diganggu oleh kera yang usil. Berkali-kali Bodhisatta terlahir di alam binatang dengan tujuan agar Bodhisatta dapat memahami penderitaan secara lengkap.
Adapun Empat Kebenaran Mulia terdiri dari
1. Dukkha Sacca (kebenaran mulia tentang penderitaan)
2. Dukkha Samudaya Sacca (kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan)
3. Dukkha Nirodha Sacca (kebenaran mulia tentang lenyapnya penderitaan)
4. Dukkha Magga Sacca (kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan)

Dukkha Sacca
Dukkha Sacca merupakan kebenaran mulia pertama dari Empat Kebenaran Mulia tentang adanya penderitaan (dukkha). Dukkha dapat dijelaskan melalui tiga cara, yaitu
1. Dukkha-Dukkha
Penderitaan yang dialami langsung oleh tubuh jasmani dan mental
2. Viparināma-Dukkha
Penderitaan yang disebabkan oleh kemelekatan terhadap suatu objek (berharap agar objek tersebut berada dalam kondisi yang sama/tidak berubah)
3. Sankhāra-Dukkha
Penderitaan yang disebabkan oleh perubahan kondisi suatu objek yang berada di luar kendali
Sang Buddha menjelaskan bahwa pancakkhandhā/pañcupādānakkhandhā (lima kelompok subjek dari pencengkraman) merupakan beban (penderitaan). Hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam Dhammacakkappavattana Sutta bahwa “Saṃkhittena pañcupādānakkhandā dukkha” yang berarti “Secara singkat, lima kelompok subjek dari pencengkraman adalah penderitaan.” Kelima kelompok subjek dari pencengkraman tersebut adalah rūpakkhandhā (kelompok rupa), vedanākkhandhā (kelompok perasaan), saññākkhandhā (kelompok persepsi), saṅkharākkhandhā (kelompok fomrasi mental), dan viññāṇakhandhā (kelompok kesadaran).
Pancakkhandhā merupakan kebenaran hakiki (kebenaran sejati) yang biasa dikenal dengan sebutan ‘diri’ di dalam kebenaran konvensional (kebenaran sesuai kesepakatan bersama yang digunakan hanya untuk mempermudah komunikasi). Disebut pancakkhandhā karena tersusun atas lima kelompok subjek yang saling menjalankan fungsinya masing-masing. Vedanākkhandhā berfungsi untuk menikmati objek yang memungkinkan timbulnya perasaan menyenangkan, tidak menyenangkan, ataupun netral. Saññākkhandhā untuk membantu mengenali objek. Begitu pula dengan ketiga kelompok lainnya yang juga menjalankan fungsinya masing-masing dan saling mendukung antarkelompok, bukan merupakan suatu kesatuan. Akan tetapi, akibat tersamarkan oleh kebodohan batin, kelima kelompok dianggap sebagai suatu ‘diri’ yang tak terpisahkan. Menganggap bahwa ‘diri’ adalah ‘aku’ sehingga tubuh yang ada adalah tubuh milik ‘aku’; perasaan milik ‘aku’; persepsi milik ‘aku’; formasi mental milik ‘aku’; dan kesadaran milik ‘aku’. Dapat dilihat, betapa melekatnya ‘aku’ terhadap pancakkhandhā!
Akibat terlalu melekat, ‘aku’ rela diperbudak untuk memenuhi keinginan-keinginan pancakkhandhā. Rūpakkhandhā ingin tampil cantik sehingga membeli kosmetika mahal untuk merias wajah. Vedanākkhandhā yang hanya ingin menikmati perasaan menyenangkan ketika memakan makanan yang lezat sehingga ‘aku’ terus menerus mencari makanan lezat agar muncul perasaan menyenangkan itu. Alhasil kita menjadi sangat sibuk untuk memenuhi keinginan-keinginan pancakkhandhā terus-menerus yang sebetulnya memiliki sifat tidak pernah puas, terlebih lagi apabila keinginan-keinginan tersebut sudah tidak rasional.

1. Rūpakkhandhā (Kelompok Rupa/Materi)
Rupa diambil dari kata ruppati yang berarti bisa rusak, terganggu, tertekan, dan hancur. Rūpakkhandhā merujuk pada tubuh jasmani yang kondisinya selalu berubah-ubah, di mana suatu saat pasti akan mengalami sakit dan akhirnya hancur.
Selama kehidupan berlangsung, kita memerlukan asupan makanan, pakaian, dan tempat tinggal untuk mempertahankan keberlangsungan kehidupan. Akan tetapi, untuk siapa kita mencari semua itu? Apakah kita mencari semua itu untuk kebutuhan diri sendiri atau kebutuhan dari sesuatu yang lain? Siapakah sebetulnya yang membutuhkan semua itu? Perlu dipahami bahwa makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang diperjuangkan oleh banyak orang bukanlah untuk memenuhi kebutuhan diri mereka sendiri, melainkan hanya untuk kebutuhan tubuh jasmani. Apabila tidak terdapat tubuh jasmani, perlukah kita mencari-cari makanan; pakaian; dan tempat tinggal? Tentu tidak perlu. Akan tetapi, karena saat ini terdapat tubuh jasmani, kita perlu memperjuangkan makanan; pakaian; dan tempat tinggal secara wajar agar dapat mempertahakan keberlangsungan kehidupan. Jadi, kita mencari semua itu bagi tubuh jasmani atau rūpakkhandhā.
Rūpakkhandhā menginginkan makanan yang lezat, pakaian yang bagus, dan tempat tinggal yang nyaman. Ada banyak tuntutan kebutuhan dari rūpakkhandhā yang pada akhirnya membawa pada penderitaan. Misalkan seseorang yang terlalu banyak makan tentu akan menyebabkan tubuhnya bertambah gemuk. Hal ini disebabkan pada dewasa ini, kebanyakan orang makan bukan untuk hidup, melainkan hidup untuk makan sehingga mereka akan makan sebanyak-banyaknya, bukan secukupnya. Ketika tubuh menjadi terlalu gemuk dan tidak ideal, tindakan selanjutnya adalah berusaha keras untuk menurunkan berat badan. Apabila tubuh sudah terasa lebih ringan, ini berarti sudah boleh makan sebanyak-banyaknya lagi. Siklus ini pun terus menerus terjadi. Tentu ini merupakan suatu penderitaan akibat rūpakkhandhā. Semakin banyak yang dituntut, semakin banyak penderitaan yang dialami. Semakin kita terlalu menuruti keinginan-keinginan rūpakkhandhā, semakin lama kita akan berputar-putar di dalam lingkaran penderitaan itu.

2. Vedanākkhandhā (Kelompok Perasaan)
Vedanākkhandhā berfungsi untuk merasakan kualitas dari suatu objek, baik objek yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan. Terdapat tiga jenis perasaan, yaitu perasaan menyenangkan, perasaan tidak menyenangkan, dan perasaan netral (saat tidak merasakan perasaan menyenangkan ataupun tidak menyenangkan).
Dalam menjalankan fungsinya, vedanākkhandhā didukung oleh viññāṇakhandhā. Pada awalnya, viññāṇakhandhā akan melakukan kontak terhadap objek. Terdapat enam jenis kontak, yaitu kontak melalui mata, telinga, hidung, lidah, sentuhan, dan batin. Ketika makan berarti lidah melakukan kontak terhadap makanan sehingga dapat mengetahui rasa dari makanan tersebut. Melalui kontak terhadap objek, vedanākkhandhā akan menjalankan fungsinya untuk merasakan perasaan yang muncul akibat kontak terhadap objek. Apabila lidah berkontakkan dengan makanan yang disukai maka vedanākkhandhā akan merasakan perasaan menyenangkan. Apabila lidah berkontakkan dengan makanan yang tidak disukai, maka vedanākkhandhā akan merasakan perasaan tidak menyenangkan. Apabila lidah berkontakkan dengan makanan dan tidak menimbulkan perasaan apa-apa berarti vedanākkhandhā merasakan perasaan netral. Demikian pula dengan kelima jenis kontak lainnya.
Dari lahir sampai saat ini, kita telah mengalami jutaan bahkan sampai milyaran kontak terhadap keenam objek tersebut yang tentunya mengondisikan perasaan.Dari ketiga jenis perasaan, perasaan menyenangkan merupakan perasaan yang paling didambakan, sedangkan perasaan tidak menyenangkan merupakan perasaan yang paling dihindari. Perasaan menyenangkan akan diusahakan untuk selalu muncul. Akibatnya timbul kemelekatan terhadap perasaan menyenangkan tersebut. Padahal sebetulnya perasaan menyenangkan itu sendiri bukanlah suatu kebahagiaan sejati. Selama ini, seringkali kita ditipu oleh perasaan menyenangkan yang menyebabkan kita menganggap bahwa perasaan menyenangkan adalah suatu kebahagiaan. Akibatnya, kita terus menerus mengejar objek yang mengondisikan kemunculan perasaan menyenangkan, seperti menyediakan makanan yang lezat bagi lidah agar muncul perasaan menyenangkan. Perlu diketahui juga bahwa selain pada batin dalam kondisi kusala (baik), perasaan menyenangkan juga bisa muncul pada kondisi batin yang penuh dengan keserakahan. Hal ini dikarenakan sebab-sebab yang menyebabkan kemunculan perasaan menyenangkan adalah objek-objek yang disukai.
Ketika perasaan menyenangkan berubah atau hilang, maka timbul penderitaan. Perasaan tidak menyenangkan yang muncul juga adalah penderitaan. Begitu pula dengan kondisi perasaan yang selalu berubah-ubah juga adalah penderitaan. Oleh karena itu, vedanānupādānakkhandhā (kemelekatan terhadap perasaan) adalah penyebab penderitaan.

3. Saññākkhandhā (Kelompok Persepsi)
Saññākkhandhā merupakan faktor mental yang memiliki karakteristik untuk mencatat/menandai objek setelah viññāṇakhandhā melakukan kontak dengan objek tersebut. Sañña (persepsi) berfungsi untuk mengenali objek dengan memanfaatkan karakteristik pencatatan yang dimiliki oleh persepsi terhadap objek-objek yang telah dilakukan pencatatan pada momen-momen sebelumnya.
Ketika viññāṇakhandhā melakukan kontak terhadap objek untuk pertama kali, persepsi akan muncul untuk mencatat ciri-ciri yang dimiliki oleh objek tersebut. Pada saat viññāṇakhandhā melakukan kontak lagi terhadap objek yang sama, persepsi akan membantu seseorang untuk mengenali objek tersebut karena persepsi telah mencatat ciri-ciri dari objek tersebut pada momen sebelumnya. Pada proses mengenali, persepsi membantu untuk mengingat berdasarkan momen-momen sebelumnya. Oleh sebab itu, persepsi disebut juga sebagai penyebab untuk mengingat, baik untuk mengingat hal baik maupun hal buruk.
Dengan adanya persepsi, seseorang mampu mengenali dan membedakan berbagai objek sebab persepsi akan mencatat ciri-ciri yang berbeda dari setiap objek. Ketika terdapat objek yang disukai dan muncul perasaan yang menyenangkan, maka persepsi yang muncul terhadap objek tersebut merupakan persepsi yang baik. Sebaliknya ketika terdapat objek yang tidak disukai dan muncul perasaan yang tidak menyenangkan, maka persepsi yang muncul terhadap objek tersebut merupakan persepsi yang buruk.
Persepsi cenderung memerhatikan hal-hal yang menyenangkan sehingga memungkinkan adanya persepsi yang salah/terdistorsi atau penjungkirbalikkan persepsi (saññā vipallasa). Ketika seseorang berpersepsi dan ternyata persepsi tersebut tidak sesuai dengan realita, maka persepsi tersebut akan menyebabkan penderitaan. Ada contoh lain mengenai persepsi yang dapat membawa ke penderitaan, yakni pelekatan pada suatu pandangan. Ketika kita melekat terhadap suatu pandangan dan menemukan ada orang lain yang memiliki pandangan yang berbeda dengan kita, kita cenderung akan berusaha mengubah pandangan orang lain agar memiliki pandangan yang sama seperti kita. Apabila pandangan orang tersebut tidak mau berubah, maka akan muncul penderitaan.

4. Saṅkharākkhandhā (Kelompok Formasi Mental)
Saṅkharākkhandhā merupakan suatu kelompok yang mengumpulkan faktor-faktor mental untuk kemudian membentuk suatu kondisi. Beberapa contoh faktor mental meliputi cetanā (niat), lobha (keserakahan), dosa (kebencian), moha (kebodohan batin), vicikicchā (keragu-raguan), hirī (takut berbuat salah), ottappa (malu akan akibat berbuat salah), dan sebagainya. Sekumpulan faktor-faktor mental akan membentuk suatu kondisi yang disebut sebagai kamma (perbuatan). Oleh karena itu, sehubungan dengan karakteristik saṅkharākkhandhā yang membentuk kamma, maka fungsinya adalah untuk mengakumulasi kamma.
Sebagai umat awam, kamma yang diperbuat cenderung menghasilkan buah kamma (vipakka). Selama masih menghasilkan vipakka, maka masih akan mengalami tumimbal lahir di dalam saṃsāra. Ketika masih harus terlahir kembali di banyak kelahiran, maka terdapat banyak penderitaan yang akan dialami.
Saṅkharākkhandhā membentangkan jalan untuk mencapai suatu tujuan, sedangkan keempat khandha lainnya menentukan tujuan yang hendak dicapai. Rūpakkhandhā menentukan tujuannya dengan menginginkan pakaian-pakaian indah untuk menghiasinya, vedanākkhandhā menginginkan kemunculan perasaan-perasaan menyenangkan, saññākkhandhā menginginkan kembali hal-hal yang disukainya (saññākkhandhā menentukkan tujuan dengan mengingat hal-hal yang dialami oleh rūpakkhandhā dan vedanākkhandhā), viññāṇakhandhā menginginkan untuk mengetahui hal-hal (rasa dan sensasi) yang disukainya. Adapun saṅkharākkhandhā yang akan mencapai tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh keempat khandha, baik melalui jalan yang benar (dilandasi kedermawanan, cinta kasih, dan kebijaksanaan) maupun jalan yang salah (dilandasi keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin). Jalan yang benar akan menuntun pada tujuan yang benar, jalan yang salah sudah pasti akan menuntun pada tujuan yang salah. Menapaki jalan yang benar akan membawa pada kebahagiaan, sedangkan jalan yang salah hanyalah menawarkan kesenangan sesaat yang pada akhirnya akan menyebabkan penderitaan.

5. Viññāṇakhandhā (Kelompok Kesadaran)
Viññāṇakhandhā berfungsi untuk mengetahui akan adanya suatu objek dengan cara melakukan kontak terhadap objek tersebut. Ada enam jenis kesadaran berdasarkan objek yang disadari, yaitu kesadaran mata, kesadaran telinga, kesadaran hidung, kesadaran lidah, kesadaran tubuh, dan kesadaran pikiran. Setiap kesadaran hanya berfungsi untuk menyadari objeknya masing-masing. Kesadaran pikiran untuk menyadari objek-objek dhamma (yang termasuk ke dalam objek-objek dhamma adalah enam objek indra yang telah menjadi objek pikiran), kesadaran sentuhan untuk menyentuh objek berbentuk, kesadaran lidah untuk mengecap objek rasa, demikian pula dengan kesadaran lainnya. Seringkali kesadaran dianggap selalu muncul setiap saat tanpa henti (kontinu), padahal sebetulnya setiap kesadaran muncul dan lenyap berkali-kali dalam waktu yang sangat cepat. Setiap kesadaran muncul dan lenyap secara bergantian sesuai dengan funsginya, bukan muncul secara bersamaan.
Ketika kesadaran telinga mendengar suara nyanyian yang merdu, perasaan senang menikmati suara merdu tersebut akan muncul dan persepsi akan mencatat suara merdu tersebut. Pada momen-momen selanjutnya, kesadaran telinga akan mendambakan suara merdu itu lagi sehingga kita akan mencari-cari suara merdu demi memuaskan permintaan kesadaran telinga ini. Usaha demi usaha dilakukan untuk dapat mendengar suara merdu. Usaha untuk mendapatkan itulah yang disebut sebagai sankhara (volitional formation). Kemelekatan inilah yang menyebabkan penderitaan sebab kemelekatan membuat kita tidak ingin terpisah dari apa yang disenangi dan menolak apa yang tidak disenangi.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *