Artikel Dhamma

Tilakkhana

Dukkha Nirodha Sacca
Dukkha Nirodha Sacca merupakan kebenaran mulia ketiga dari Empat Kebenaran Mulia tentang lenyapnya penderitaan. Melenyapkan penderitaan bukan berarti kita memaksakan kehendak untuk menghilangkan ataupun mengubah kondisi-kondisi penyebab penderitaan tersebut agar dapat sesuai dengan yang diinginkan. Perlu dipahami bahwa kemunculan kondisi-kondisi tersebut berada di luar kendali kita.

Semakin kita berusaha untuk mengubah kondisi tersebut agar sesuai dengan keinginan kita, maka semakin menderitalah kita. Ketika kita meminta hal-hal di luar kendali sesuai dengan keinginan kita, maka sebetulnya pada saat itu pula kita sedang meminta penderitaan. Selain itu, melenyapkan penderitaan juga bukan berarti kita menghindar dari penyebab-penyebab penderitaan tersebut. Sikap menghindar akan membiasakan kita untuk menolak hal-hal yang tidak disukai. Alhasil kita akan terlalu sibuk menghindari hal-hal yang tidak disukai dan pada saat itu sebetulnya kita sedang memunculkan penderitaan yang baru.
Mereka yang telah mengakui akan adanya penderitaan dan mengetahui sebab-sebab kemunculan penderitaan akan memahami bahwa untuk melenyapkan penderitaan, berarti kita perlu untuk memahami penderitaan itu sendiri terlebih dahulu. Penderitaan bukan diatasi dengan mengatasi persoalan-persoalan di luar, melainkan diatasi dengan mengatasi persoalan-persoalan yang berada di dalam ‘diri’. Bukan dengan menciptakan perang dingin yang baru, melainkan dengan berdamai terhadap penderitaan. Berdamai terhadap sebab-sebab penderitaan dengan cara mengurangi keinginan-keinginan kita yang merupakan sumber kemunculan penderitaan. Buddha tidak pernah mengajarkan kita untuk mengejar-ngejar kebahagiaan. Yang diajarkan oleh Buddha adalah mengurangi penderitaan, yakni dengan cara mengurangi keinginan karena keinginan itulah yang menjadi sebab penderitaan. Satu-satunya cara untuk mengurangi keinginan tidak lain adalah dengan memahami bahwa setiap fenomena yang terkondisi memiliki 3 sifat umum (tilakkhana).

Tilakkhana
Tilakkhana (Tiga Corak Umum/Tiga Corak Kehidupan) merupakan tiga sifat umum yang pasti dimiliki oleh setiap fenomena yang terkondisi. Dalam hal ini, suatu fenomena dikatakan terkondisi karena eksistensi dari fenomena tersebut bergantung pada kondisi-kondisi yang mendukung eksistensinya. Misalnya, eksistensi meja didukung oleh kondisi-kondisi yang mendukungnya berupa papan kayu pada bagian atas meja yang ditunjang oleh keempat kaki meja berukuran sama pada bagian ujung papan meja agar dapat menjadi meja yang seimbang. Demikian pula dengan fenomena hujan ataupun banjir yang terjadi akibat munculnya kondisi-kondisi yang mendukung kemunculan dan keberlangsungan dari fenomena tersebut, termasuk ‘diri’ yang juga terkondisi oleh adanya pancakkhanda dan perasaan menyenangkan yang hanya akan muncul apabila didukung oleh kemunculan objek-objek yang disukai. Perlu dipahami bahwa segala sesuatu yang muncul di dalam kehidupan ini disebabkan oleh kondisi-kondisi pendukungnya.
Setiap fenomena yang bergantung pada kondisi memiliki tiga sifat umum, yaitu bersifat tidak kekal (anicca), tanpa inti (anatta), dan tidak memuaskan (dukkha). Ketiga sifat ini berlaku universal di dalam 31 alam kehidupan, baik terhadap makhluk hidup maupun benda-benda.

Anicca
Anicca berarti ketidakkekalan. Segala sesuatu yang terkondisi adalah tidak kekal atau kondisinya selalu berubah-ubah mengikuti hukum alam. Terkadang kita merasakan perasaan menyenangkan, tetapi tak lama dari itu kita juga akan merasakan perasaan tidak menyenangkan. Ada saatnya kita sehat dan ada saatnya kita sakit. Ada kelahiran dan akan ada juga kematian. Ada kondisi yang baik dan ada kondisi yang buruk.
Dengan memahami ketidakkekalan, maka kita akan mampu untuk menerima penderitaan tersebut dan melihat bahwa fenomena tersebut merupakan hal yang wajar. Setiap ada kelahiran pasti akan ada kematian. Tidak perlu diminta-minta ataupun dapat ditolak karena tubuh kita, bahkan tubuh seorang Buddha mematuhi hukum alam. Penyakit dapat datang sewaktu-waktu. Pagi hari ini kita dalam keadaan sehat, namun pada siang harinya kita dapat terserang penyakit. Bahkan kondisi batin juga tidaklah kekal. Mungkin saat ini, Anda sedang dalam keadaan bahagia karena dapat mendengarkan Dhamma, namun setelah sesi hari ini selesai, apakah Anda akan dalam keadaan bahagia lagi? Sekarang mungkin kita sedang memiliki hubungan yang cukup baik dengan orang lain, tapi karena kondisi batin yang terus menerus berubah hubungan tersebut juga dapat menjadi rusak. Permasalahan-permasalahan tersebut timbul bukan karena ketidakkekallan tersebut, melainkan permasalahan-permasalahan muncul karena kita tidak mau menerima ketidakkeakalan itu. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk memahami sifat ketidakkekalan dan menerima sifat ketidakkekalan tersebut sehingga kita akan selalu siap menghadapi fenomena kehidupan yang selalu berubah-ubah.

  • Anatta
  • Anatta berarti tanpa inti. Disebut sebagai tanpa inti karena tidak terdapat suatu hal dasar yang pasti atau yang menandakan suatu objek. Misalkan ada sebuah meja kayu. Sebetulnya bagian mana yang disebut sebagai meja? Apakah bagian kaki, papan atas, atau bagian lainnya? Tidak ada satupun bagian yang bisa disebut sebagai meja. Kumpulan dari kayu-kayu yang membentuk kaki dan papan atas yang ditopang oleh kaki tersebutlah yang dikenal dengan sebutan meja.
    Konsep anatta dapat diibaratkan sebagai konsep pada kolong meja. Suatu meja dapat dikatakan memiliki kolong apabila terdapat kondisi yang mendukung, yakni memiliki kaki meja dengan jumlah dan jarak antarkaki yang seimbang, di mana kaki-kaki meja tersebut berperan sebagai penopang papan di atasnya. Akan tetapi, apabila meja tersebut dibalikkan, maka kolong meja tersebut menjadi tidak ada. Jadi apakah meja memiliki kolong? Jawabannya adalah tergantung pada kondisi-kondisi yang mendukung terbentuknya kolong meja tersebut, ini bukanlah sesuatu hal yang pasti. Demikian pula dengan konsep anatta yang berarti tanpa inti yang pasti/ berubah-ubah.
    Apabila telah mengetahui bahwa segala sesuatu tanpa inti, berarti pancakkhandha juga tidaklah memiliki inti. Tubuh jasmani, perasaan, persepsi, faktor-faktor mental, dan kesadaran yang membentuk ‘diri’ ini tidaklah memiliki inti. Tubuh jasmani, perasaan, persepsi, faktor-faktor mental, beserta kesadaran muncul sesuai dengan kondisi-kondisi yang dikumpulkan dan berada di luar kendali kita. Kita tidak dapat mengatur tubuh jasmani kita sendiri supaya sehat selalu. Kita tidak dapat mengatur kaki kita untuk tidak sakit pada saat meditasi. Kita tidak dapat mengatur perasaan yang muncul hanyalah selalu perasaan menyenangkan. Lantas apakah masih dapat kita menyebut ‘diri’ ini sebagai milik kita? ‘Diri’ ini hanyalah sebatas sebutan konvensional. Rumah dan mobil juga hanyalah sebatas sebutan konvensional agar dapat membedakan keduanya.

  • Dukkha
  • Dukkha berarti tidak memuaskan. Segala sesuatu yang terkondisi memili sifat selalu berubah-ubah dan tanpa inti sehingga segala sesuatu yang terkondisi memiliki sifat tidak memuaskan. Ketidakpuasan inilah yang pada akhirnya akan membawa pada penderitaan. Ketika mengalami usia tua, sakit, dan kematian, kita tentu akan merasa menderita. Namun, perlu diketahui bahwa usia tua, sakit, dan kematian bukanlah sebab dari penderitaan. Yang menjadi sebab penderitaan adalah keinginan untuk tidak menjadi tua, sakit, dan juga mati. Hal tersebut terjadi karena ketidaktahuan kita akan sifat-sifat dari tubuh yang selalu berubah-ubah dan tidak bisa kita kendalikan karena bukan milik kita. Oleh karena itu, fenomena jasmani ataupun rupakkhanda adalah tidak memuaskan. Demikian pula dengan khanda lainnya.
    Mungkin saat ini, kita sedang merasa senang. Namun, perasaan senang tersebut juga tidaklah kekal. Perasaan senang tersebut dapat dengan cepat berubah menjadi perasaan tidak menyenangkan ketika bertemu dengan objek yang tidak diinginkan. Ketika bermeditasi, tidak dalam setiap sesi meditasi duduk, kita selalu dapat mengamati napas dengan jelas. Tidak dalam setiap meditasi duduk, batin selalu berada dalam kondisi tenang, kecuali telah mencapai tingkat kesucian arahat. Batin yang mampu mengamati napas dengan jelas dan batin yang tenang juga muncul karena ada kondisinya. Ketika kondisinya tidak terpenuhi, maka batin yang demikian juga tidak akan muncul. Tidak dapat kita perintah batin kita untuk tenang selalu. Kondisi batin selalu berubah-ubah. Oleh karena itu, kondisi batin juga merupakan suatu hal yang tidak memuaskan. Apakah kita masih perlu melekati segala fenomena yang tidak memuaskan itu?

    Sekarang kita paham bahwa segala sesuatu yang terkondisi adalah tidak kekal, tanpa inti, dan tidak memuaskan. Ketika kita benar-benar memahami ketiga sifat tersebut maka kebijaksanaan akan muncul untuk memberikan tanggapan alami dari dalam batin, yaitu kejenuhan untuk melekat terhadap segala sesuatu yang terkondisi (nibbidā). Kejenuhan ini bukan berarti melarikan diri ataupun menerima apapun yang terjadi begitu saja (pasrah). Batin telah sepenuhnya memahami ketiga sifat umum dan tidak mau melekat lagi dengan segala sesuatu yang terkondisi sehingga membiarkan hal-hal itu terjadi dan tidak menanggapi ataupun cemas terhadapnya. Dengan bersikap demikian, maka penderitaan yang dialami oleh batin pun akan sedikit demi sdikit berkurang.

    You may also like...

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *